Jalani Hidup yang Kamu Inginkan : Resensi Film Kambing Jantan

Judul Film                :      Kambingjantan

Image

Sutradara                :      Rudi Soedjarwo

Judul Novel              :      Kambingjantan : Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2007)

Production House    :      Indika Pictures – Vito Production

Tahun Rilis               :      2009

Pemain                     :      Raditya Dika, Herfiza Novianti, Edric Tjandra, Sarah Shafitri, Pong Hardjatmo

 

Lagi, sebuah film yang diangkat dari novel karya anak bangsa kembali menghiasi layar perak Indonesia. Film berjudul Kambingjantan ini diangkat dari ‘blog yang dibukukan’ yang berjudul sama. Awalnya, blog milik Raditya Dika ini yang menceritakan kisah-kisah  konyol dan bodohnya setiap hari, kemudian dicetak menjadi buku yang akhirnya menggugah sutradara terkenal, Rudi Soedjarwo untuk mengangkatnya ke sebuah film berjudul sama.

Dika (Raditya Dika), biasa dipanggil Kambing atau Mutun, akan melanjutkan pendidikannya di bidang finance yang tidak dia sukai hanya karena keluarganya, terutama mamanya, menganjurkannya untuk memilih bidang itu untuk kuliah. Dika pun pergi ke Australia, meninggalkan teman-temannya, band-nya, dan juga kekasihnya, Kebo (Herfiza Novianti). Di Australia, Dika bersahabat dengan Harianto (Edric Tjandra) yang berasal dari Kediri. Di benua itu, Dika bertemu dengan orang-orang unik, seperti gurunya yang menerapkan konsep militerisme dalam kelasnya juga si pria India penjaga toko yang kata-katanya sederhana namun bermakna. Hubungan jarak jauh dengan Kebo yang menemui banyak rintangan, kuliah dengan bahasa asing yang tidak sesuai bakat dan minatnya, membengkaknya pengeluaran selama di Australia, semuanya yang berubah drastis semenjak kepindahan Dika membuat kedua orang ini menjadi pribadi yang berbeda.

Ketika hubungan Dika dan Kebo yang berubah dan tidak seperti dulu, Dika bertemu dengan Ine (Sarah Shafitri), korban surat cintanya semasa SD, di sebuah restoran Cina ketika Dika sedang makan dengan Kebo dan geng Shanghai Babes-nya. Ine ternyata adalah pembaca setia blog Dika dan dari Ine pula Kebo akhirnya tahu bahwa selama ini Dika punya blog. Dari pertemuannya dengan Ine inilah Dika mempunyai ide supaya blog ini dibukukan. Akhirnya berangkatlah Dika ke sebuah percetakan buku ternama, Gagas Media ditemani Kebo yang juga ingin membukukan hasil tulisannya dari SMA. Sayangnya, naskah Kebo ditolak dan naskah Dika yang berhasil lolos. Dika kemudian kembali ke Australia untuk melanjutkan kuliahnya, di tengah-tengah pengurusan royalti bukunya yang berlangsung di tanah air. Semakin lama, hubungan Dika dan Kebo semakin tidak sehat, berbagai macam pertengkaran, terkuaknya hubungan Dika dan Ine oleh Kebo, dan Dika yang merasa mata kuliah yang diambilnya bukanlah jalan hidupnya.

Dika akhirnya kembali ke Indonesia, meninggalkan kuliah Finance-nya yang terpotong di tengah jalan. Dalam film ini dia berkata, “Bukan gue yang kalah sama Australia, tapi Australia-lah yang kalah sama gue”. Dika menjalani hidup sebagai penulis dan blogger terkenal di tanah air, sebuah profesi yang sesuai dengan apa yang dijalaninya. Bagaimana dengan Harianto? Dia berhasil membuat robot multifungsi yang bisa berbahasa Kediri (Jawa). Kemudian Kebo dan gemg Shanghai Babes-nya menjadi organisasi yang diakui kampus di Sastra Cina UI. Pada akhirnya, semua orang menjalani hidupnya sesuai apa yang mereka senangi. Bukan karena paksaan dari orang lain.

Dibandingkan bukunya, film ini mengalami sedikit perubahan. Ada beberapa adegan baru yang dimunculkan sehingga film ini mempunyai jalan cerita baru yang tidak melenceng dari buku sekaligus blog aslinya. Sangat tidak mungkin apabila film ini dibuat mirip seperti bukunya karena pasti akan membosankan dan datar sekali. Karena dalam bukunya, Dika tidak menceritakansebuah konflik secara detail, sedangkan konflik di film benar-benar diperlihatkan.

Film ini mengajarkan kepada kita untuk menjalani hidup sesuai apa kata hati. Hal ini merajuk kepada realita dimana kedua orang tua seringkali memaksakan kehendaknya kepada anak, apalagi dalam bidang pendidikan. Film yang diangkat dari blog yang dibukuan ini membahas realita kehidupan remaja sehari-hari. Sangat pas untuk ditonton dengan keluarga. Ceritanya pun mudah dimengerti dengan dibumbui dengan berbagai gurauan konyol ala Raditya Dika.

Sayangnya, film ini mempunyai alur yang terkadang membuat orang agak bingung. Berbagai adegan di awal film menggunakan Bahasa Inggris yang membuat penonton sedikit terganggu dengan subtitle yang ada di bagian bawah layar. Untungnya hal ini tidak berlangsung sepanjang film karena di tengah-tengah semua pemain menggunakan bahasa Indonesia.

Film ini bisa ditonton oleh semua kalangan, merupakan sebuah tontonan yang menghibur dan banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam film ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s